Pada awalnya saya diajak oleh teman untuk mengikuti acara kebersamaan yang diadakan oleh orang Jepang. Saat itu saya berani karena dulu masih satu tempat tinggal dengan teman saya itu. Tapi sekarang, kami masing-masing berbeda tempat tinggal. Jadi jika ada acara semacam itu, saya jadi tidak begitu berani untuk berpartisipasi, karena tidak ada yang menemani. Temen saya itu berkata, "Kamu harus berani untuk berpartisipasi sendiri, jangan ditemani melulu".

Agak berat memang melawan rasa malu bergaul dengan orang-orang baru. Terutama bagi orang introvert seperti saya. Tapi kemudian saya ingin mencoba memberanikan diri untuk mencoba. Saat melihat ada acara semacam ini di Facebook dan langsung mencari lebih detail informasinya. Acara ini diadakan oleh orang Jepang yang bernama mbak Chiho. Akan diadakan pada hari Minggu di 群馬県公社総合ビル (gunma-ken kousha sougou biru). Saya tidak begitu tahu itu gedung apaan. Acara itu bertajuk ご縁繋ぎ会 (goen tsunagi-kai), yaitu hubungan kekeluargaan. Di acara itu akan diajarkan bagaimana melakukan 自己紹介 (jiko shoukai), yaitu pengenalan diri. Saya tambahkan sebagai teman penyelenggaranya dan bertanya-tanya mengenai acara itu.

Lalu hari Minggu (12 Maret) kemarin lusa, saya mengikuti acara itu. Saya ke gedung itu mengendarai sepeda. Awalnya saya kurang berani, pasti banyak orang yang hadir dan saya akan dikucilkan nanti. Pikiran itulah yang muncul dalam benak saya. Tapi saya sudah berada di lokasi. Sangat tidak baik jika saya mundur, apalagi saya sudah menjadikan penyelenggaranya sebagai teman. Mungkin saja saya akan dicap buruk jika membatalkan hadir.

Entah apa yang mendorong saya untuk terus melangkah maju. Saya masuki gedung yang sangat tinggi itu. Ada orang Jepang yang berdiri di resepsionis, diapun menyambut dengan hangat.

Saya tanya, "Apakah anda resepsionis untuk acara ini?", saya tunjukkan page-nya melalui HP.
Dia menjawab, "Bukan, ini untuk acara yang lainnya".
"Kalau begitu, saya kontak dulu pengelenggara acara saya"

Sayapun bertanya ke mbak Chiho melalui pesan, "Acaranya diadakan di mana sebenarnya?".
"Acaranya di lantai 5", jawabnya. Waduh, ternyata bukan di situ resepsionisnya. Seharusnya saya tanya mbaknya sebelum-sebelumnya. Di page-nya juga tidak ada info detail sih.

Sayapun berkata pada resepsionis yang tadi, "Maaf, sepertinya saya salah tujuan, acaranya di lantai 5".
"Oh gitu, silahkan ke arah sana, di sana ada lift", balasnya.

Sayapun naik lift menuju lantai 5. Sesampainya, sayapun menuju ruangan. Tampak mbak Chiho berdiri di depan pintu dan menyambut saya.
"Selamat datang. Terimakasih sudah bela-belain datang, silahkan ke resepsionis", katanya.

Saya ke resepsionis, diberi kertas isian profil dan membayar 参加費 (sanka-hi), yaitu biaya partisipasi. Resepsionisnya itu seorang wanita yang memakai Yukata, baju tradisional jepang yang terbuat dari kain katun. Kalau Kimono itu terbuat dari kain sutera. Harganya mahal dan memakainya tidak bisa sendiri, harus dibantu orang lain, jika dibandingkan dengan Yukata. Di ruangan itu tampak beberapa orang yang telah datang. Saya dipersilahkan duduk dan menulis kertas isian profil.

Hal yang harus diisi pada kertas isian profil itu, antara lain :

  1. 名前 (namae), yaitu nama.
  2. 生活拠点 (seikatsu kyoten), yaitu domisili.
  3. 仕事 (shigoto), pekerjaan.
  4. 性格 (seikaku), kepribadian.
  5. 趣味 (shumi), hobi/kegemaran.
  6. 役に立てること (yaku ni tateru koto), hal yang bisa berguna dari diri sendiri.
  7. 困ってること (komatteru koto)、悩み, kesulitan.
  8. チャレンジしたいこと (charenji shitai koto), tantangan yang ingin dilakukan.

Mbak Chiho kemudian mempresentasikan tentang pengenalan diri di depan orang. Jadi data-data di atas yang disarankan untuk dikemukakan ketika melakukan pengenalan diri. Ekspresi dan suara juga harus menjadi perhatian agar lawan bicara antusias.

Kemudian sesi selanjutnya adalah praktek langsung pengenalan diri. Setiap orang diberi waktu 3 menit untuk memperkenalkan diri. Siapa yang duluan melakukan pengenalan diri diputuskan dengan cara jan-ken-pon, yaitu seperti gunting-batu-kertas gitu deh. Untuk bukan saya yang pertama kali yah, melainkan orang di samping saya. Orang itupun memperkenalkan diri, dia bilang seorang tukang rakit dan reparasi komputer. Mungkin nanti bisa tanya-tanya dia tentang komputer di Jepang. Setelah dia selesai, ternyata selanjutnya giliran saya. Berurutan gitu deh, karena saya berada di sampingnya.

こんにちは皆さん (konnichiwa minasan)。私の名前はアフマドと申します (watashi no namae wa afumado to moushimasu)。インドネシアから参りました (indoneshia kara mairimashita)。去年の四月に日本に参りました (kyonen no shigatsu ni nihon ni mairimashita)。趣味は絵を描くことです (shumi wa e o kaku koto desu)。仕事は留学生です (shigoto wa ryuugakusei desu)。学校は日本文化学院です (gakkou wa nippon bunka gakuin desu)。日本が大好きです (nihon ga daisuki desu)。

Haha.. saya tidak tahu apa lagi yang harus saya katakan. Masih banyak waktu yang tersisa. Saya langsung tutup dengan berkata :
よろしくお願いします (yoroshiku onegai shimasu)。以上です (ijou desu)。

Semuapun memperkenalkan diri secara bergiliran hingga semua selelsai. Belakangan saya baru tahu dari cara mereka memperkenalkan diri di depan orang banyak, diantaranya :

  1. Suara harus lantang seperti mendorong seseorang.
  2. Ekspresi harus tebarkan senyum.
  3. Tatapan mata kalau bisa mengarah ke setiap orang yang berada di hadapan kita.
  4. Saya juga lupa berkata 初めまして (hajimemashite), itu sapaan ketika kita pertama kali bertemu seseorang yang tidak pernah ketemu sebelumnya.
  5. Posisi badan tegap dan bisa menggunakan gerakan tangan seperti pembicara-pembicara profesional.

Sesi selanjutnya adalah break/istrahat. Boleh ke toilet atau minum teh yang disediakan. Resepsionisnya juga membagikan permen kepada setiap peserta. Saya pilih permen coklat. Haha.. sebenarnya mau ambil banyak tuh permennya kalau boleh.

Sesi selanjutnya adalah setiap peserta akan saling bertukar kertas profil dan tanya jawab tentang profil lawan bicara masing-masing. Kombinasi akan terus diganti hingga semuanya saling ketemu yang lainnya. Kebanyakan mereka-mereka yang menanyai saya. Mereka penasaran dengan kedatangan saya ke Jepang. Katanya itu adalah hal yang berani dan memberikan dukurangan untuk terus semangat. Kadang-kadang saya juga menanyai mereka tentang hobi mereka.

Image

Para peserta saling tanya jawab tentang profil lawan bicara.

Ada yang hobi travel, saya tanya, "Negara mana saja yang telah anda kunjungi?"
"Australia, Italia, dll", balasnya.
"Anda hebat ya, coba sekali-sekali ke Indonesia", balas saya.
"Mungkin akan saya coba suatu saat", katanya.

Ternyata ada juga yang hobinya menggambar.
"Gambar seperti apa yang anda gambar", dia bertanya.
"Ilustrasi, sketsa, dan manga", saya jawab.
"Wow, manga apa yang anda tahu?".
"Nisekoi dan SAO (Sword Art Online), anda kenal itu?"
"Ya, saya kenal itu".
"Anda sendiri suka manga apa?"
"Anda tahu One Piece?"
"Ya".
"Itu saya suka".
"Oh gitu, hobi kita sama, siapa tahu nanti bisa berbagi tentang gambar-menggambar ya".
"Tentu saja"

Ada lagi orang yang saya baca profilnya suka memasak.
"Masakan apa yang anda masak?".
"Masakan yang bisa saya sajikan pada keluarga saya".
"Apakah itu masakan Jepang?"
"Ya ...", saya agak lupa jawaban beliau.
Beliau ini seorang kakek yang setelah itu saya tahu beliau punya usaha sendiri, tidak bekerja di perusahaan. Saya liat-liat di Facebook-nya dia berjualan makanan dari hasil kebun sepertinya.

Ada juga percakapan seperti ini.
"Baju kamu bagus ya"
"Ini namanya batik"
"Apakah kamu tahu Gamelan"
"Ya, itu alat musik dari Jawa"
"Saya suka itu"
"Ada juga yang menggunakan boneka"
"Itu wayang namanya"
Kebudayaan Jawa ternyata lebih terkenal ya di mata orang Jepang.

Peserta yang hadir ibu-ibu dan bapak-bapak, cuma 1 orang yang seumuran dengan saya dan itu laki-laki. Mbak Chiho juga mungkin seumuran dengan saya. Dilihat dari mukanya. Gak berani nanya umur mereka, takutnya gak sopan. Malah mereka yang tanya umur saya dan langsung saya jawab.

Di akhir acara, para peserta bertukar kartu nama agar bisa saling berhubungan selepas acara ini. Saya tidak punya kartu nama, mereka yang pada ngasih kartu nama pada saya. Huh, lain kali bikin kartu nama sendiri lah, biar agak profesional dikit gitu ya.

Acara kali ini sangat menyenangkan dan menemukan banyak teman orang Jepang baru. Walaupun umur mereka berada di atas saya. Mereka memaklumi kekurangan saya dalam berbicara di depan orang dan saya respek kepada mereka. Berharap saya bisa hadir lagi pada acara seperti ini dan mengembangkan terus cara bersosialisasi.