Pasti ada yang sudah kenal dengan Harajuku. Bagi anda pecinta gaya Jepang, pasti sudah kenal gaya Harajuku. Saya sendiri tidak begitu mengerti style kayak gitu. Saya lihat sih begitu colorful. Kalau di Indonesia mungkin sudah disebut sebagai anak alay. Sebenarnya Harajuku ini nama salah satu daerah di Tokyo. Mungkin style Harajuku itu artinya gaya-gaya orang di Harajuku.

Di sepanjang jalan di Harajuku, kami berjalan-jalan bersama sekitar puluhan ribu orang. Jalan di Harajuku ini agak cekung, pas berada di tengah cekungannya, kita bisa melihat barisan orang yang sedang berjalan di depan dan di belakang kita seperti kerumunan semut.

Di sepanjang jalan Harajuku banyak deretan pusat perbelanjaan fashion. Banyak sekali fashion merk-merk terkenal ada di sana. Kalau tidak punya banyak uang, jangan coba melihat-lihat ke dalam toko, karena cuma bisa bikin gigit jari.

Temen-temen sebenarnya ingin bertemu komunitas anak muda yang berpakaian Harajuku. Katanya tiap akhir pekan komunitas ini akan performance di daerah Harajuku. Tapi pas kami ke sana, kami tidak melihat mereka. Kami tidak tahu di mana tepatnya mereka berada dan pada jam berapa juga mereka bisa terlihat. Jadi kami cuma melintas sepanjang Harajuku.

Mereka juga sebenarnya mau lanjut ke daerah Shibuya untuk menyaksikan Shibuya crossing. Tapi kami, tidak mengetahui jalur tembusan dari Harajuku menuju Shibuya. Akhirnya kami masuk ke stasiun Harajuku untuk mengambil kereta menuju ke Akihabara. Wow, antrian masuk ke stasiun Harajuku juga super macet, kayak antrian kereta lebaran di Jakarta. Orang-orang berdesak-desakan kiri-kanan depan-belakang. Hampir 30 menit cuma untuk mengantri masuk ke stasiun Harajuku.

Siapa yang tidak kenal dengan Akihabara, pusatnya manga, anime dan game. Sebutan singkatnya adalah Akiba. Di sini pastinya bisa menemukan manga dan kaset anime keluaran terbaru. Banyak juga dijual action figure dan juga souvenir bernuansa anime. Sudah pasti surganya para otaku. Otaku adalah orang-orang yang punya kecenderungan menggilai manga, anime, dan game. Denger-denger sih mereka lebih suka berkencan dengan karakter anime dibandingkan yang nyata. Apakah anda termasuk otaku? Jika iya, kalau ke Jepang harus mengunjungi Akihabara.

Pas sore hari di Akihabara, jalan raya dengan bebas dilalui oleh pejalan kaki. Orang-orang berfoto di tengah jalan. Tapi pada malam hari harus mengikuti lampu lalu lintas.

Akihabara Electronic Center

Keramaian di Akihabara

Kata orang sih barang elektronik di Akiba itu murah-murah. Saya lihat-lihat, tetap saja mahal di dompet saya .. haha. Tapi yang pasti barang elektronik buatan Jepang. Walaupun ada saja saya lihat toko yang bernuansa Chinese, bahkan menyambutnya pakai bahasa Chinese. Pas masuk sana malah saya merasa bukan di Jepang.

Oh iya, pas keluar dari stasiun Akihabara, anda bisa melihat AKB48 Cafe & Shop. Kami tidak masuk ke sana. Paling yang masuk ke sana adalah para wota. Wota adalah orang-orang yang punya kecenderungan memuja grup idol gitu. Rela mengeluarkan uang banyak demi menjadi lebih dekat dengan oshi mereka. Oshi adalah anggota dari grup idol yang paling menjadi pujaan di hati seorang wota. Saya tidak akan berbicara panjang lebar tentang dunia perwotaan di sini. Teman saya yang pernah masuk ke sana bilang katanya harga makan di sana mahal. Makanan dengan porsi kecil saja harganya bisa 1000-an yen. Entah teman saya itu wota atau bukan. Para wota Jepang kayaknya rela keluar banyak demi memperlihatkan kesetiaan mereka pada oshi mereka.

AKB48 Shop and Cafe

AKB48 Cafe & Shop

Di samping kafe AKB48 ada juga Gundam Cafe, Mungkin bagi pecinta Gundam, ini kafe yang cocok bagi mereka. Saya tidak bisa cerita banyak tentang kafe ini, karena saya tidak masuk ke dalam sana.

Produsen game Jepang juga punya toko sendiri di daerah Akihabara ini. Salah satunya adalah Sega. Di Akiba barang-barang seperti aksesoris PlayStation banyak dan ada juga card game gitu. Action figure karakter anime sangat banyak, mulai dari yang murah hingga ada yang harganya mahal. Harga action figure dimulai dari 500 yen. Action figure Ken Kaneki yang sedang berubah menjadi ghoul itu seharga 50,000 yen. Mahal sekali ya, tapi emang keren sih kelihatannya.

Pada malam hari, ketika melintas di sepanjang jalan Akiba, para maid cafe dengan penampilan loli dan kawaii menawarkan untuk masuk maid cafe dengan suara yang manja. Wow, mahal juga tuh, dia bilang tarifnya mulai dari 2000 yen per jam. Bisa terkuras tuh isi dompet.

Saya 2 kali jalan-jalan ke Akiba, hingga akhirnya saya juga ikut menobatkan Akiba sebagai surga saya pada kunjungan kedua. Wow, kok bisa? Saya menemukan toko-toko yang menjual komponen elektronik dan mikrokontroller lengkap. Alat bantu yang saya idam-idamkan di lab kecil saya juga ada. Tapi sayangnya harganya mahal. Saya cuma beli yang sesuai di dompet dulu. Terpendam keinginan untuk membeli alat-alat canggih itu suatu saat.

Di Akiba tempat saya belanja alat lab, saya bercerita banyak dengan si penjaga toko dengan bahasa Jepang tentang ketertarikan saya pada elektronika. Banyak hal yang kita bicarakan tentang elektronika. Bahkan beliau ini memberikan buku katalog miliknya. Di buku itu saya baca-baca, isinya katalog teknologi canggih elektronika Jepang. Jadi bertambah deh referensi untuk melengkapi lab mini saya. Saya berterimakasih sekali kepada beliau, tidak rugi juga jalan-jalan ke Akiba ya.

Saat ke Akiba, cuma sedikit foto-foto yang bisa saya ambil. Karena selalu mengunjunginya di malam hari, saat itu juga HP saya sudah kehabisan baterai. Lain kali harus sedia powerbank kalau pergi liburan. Atau memang HP saya ini bermasalah, sudah saya masukkan ke airplane mode, masih saja tidak bisa bertahan seharian. Jadinya tidak bisa mengabadikan banyak hal di Akiba.