Sehabis dari Tokyo Tower, tujuan selanjutnya menurut itinerary teman saya adalah Sensoji Temple. Sebuah kuil yang ramai dikunjungi turis di daerah Asakusa, Tokyo. Untuk menuju ke sana, dapat ditempuh dengan naik subway menuju stasiun Asakusa. Kuilnya termasuk megah. Di gerbang masuk terdapat gapura dengan lampion raksasa.

Sensoji 1

Gerbang masuk Sensoji Temple

Kami mengunjunginya pas sudah petang. Ada banyak lampion yang menghias kompleks kuil. Ada tulisan-tulisan di gerbangnya. Saya baru nyadar pas nulis tulisan ini. Itu maksudnya diadakan perayaan bunga (花祭り / hana matsuri) pada tiap tanggal 8 April. Itu berarti teman saya tidak bisa menikmatinya, karena mereka akan balik ke Indonesia pada tanggal 7 April.

Sensoji 2 

Lampion raksasa di gerbang Sensoji Temple

Di dalam kuil pengunjung beragama Budha berdoa. Tapi ada juga turis mancanegara yang ikut berdoa di sana. Salah satu yang banyak dicoba pengunjung adalah Omikuji, yaitu ramalan. Teman-teman ternyata ingin mencoba.

Cara mereka meramal adalah masukkan koin 100 yen, lalu kocok wadah besi yang berisi bilahan bambu seperti arisan. Akan keluar bilahan bambu yang tercantum nomor. Nomornya tertulis dalam bahasa Jepang. Nomor bilahan bambu yang keluar itu dicocokkan dengan nomor laci yang ada di depan. Nomor di laci juga tulisan Jepang. Jika tidak tahu itu nomer berapa, cocokkan saja bentuknya. Kalau sudah ketemu nomer laci yang sesuai, buka lacinya. Akan ada selembaran kertas yang berisi ramalan anda. Tulisannya ada penjelasan bahasa Inggrisnya juga kok. Teman saya, Vera, mendapat "The Best Fortune" dan saudaranya mendapat "The Half Fortune".

Menurut penjelasan di sana, ditulis dengan bahasa Inggris, jika ramalanya bagus dapat dibawa pulang. Tapi jika ramalannya jelek, ikat dan gatungkan di tempat yang telah disediakan. Katanya buat menghindarkan ramalan jelek itu terjadi. Namanya masa depan tidak ada yang bisa meramalkan dengan pasti. Sebaiknya jangan terlalu percaya pada ramalan. Kalau kita mempersiapkan atau melakukan hal baik saat ini, maka itu akan membawa hal baik di masa mendatang. Begitu pula sebaliknya, melakukan hal buruk saat ini, akan mendatangkan hal buruk pula di masa mendatang.

Sensoji 3

Para pengunjung mencoba ramalan Omikuji

Bukan cuma kuil ini yang membuat kawasan ini ramai, tapi juga diramaikan oleh daerah pusat perbelanjaan Asakusa. Banyak restoran Jepang dan toko-toko yang menjual souvenir khas Jepang di daerah Asakusa. Bahkan ada juga namanya cat cafe. Ya, kafe kucing, kafe yang membolehkan pengunjungnya untuk bermain-main bersama kucing-kucing lucu.

Teman-teman ingin sekali masuk cat cafe, jadi saya temani mereka. Dengan mengikuti aplikasi navigator, kami mencari lokasi kafe tersebut. Tapi yang ada kami tidak menemukannya dan malah kesasar jauh. Lalu kami bertanya pada seorang wanita yang memakai kimono, pakaian khas Jepang gitu. Luar biasanya, wanita itu fasih berbahasa Inggris. Bukan cuma menunjukkan jalannya, tapi juga mengantarkan kami hingga pintu gerbang kafe tersebut. Kami bahkan mengira kalau wanita itulah pemilik cat cafe tersebut, tapi ternyata bukan. Karena motif kimono yang wanita itu pakai adalah motif kucing. Saya pikir, kok bisa kebetulan sekali ya. Temen-temen yang pecinta kucing bertemu orang Jepang yang juga pecinta kucing. Mereka bercakap-cakap tentang kucing menggunakan bahasa Inggris. Temen-temen saya ini fasihnya menggunakan bahasa Inggris gitu ceritanya. Sesampainya di kafe, kami mengucapkan terimakasih dan wanita itu juga pamit.

Lokasi kafenya menurut saya kurang strategis gitu. Berada di sebuah gedung lantai sekian. Untuk masuk ke kafe itu harus naik lift. Temen-temen agak sedikit kecewa, karena banyak sekali peraturan tertulis yang harus dipatuhi selama di dalam kafe. Boleh menyentuh kucingnya tapi tidak boleh dipeluk. Boleh memotret kucingnya tapi jangan nyalakan flash kamera. Tarifnya juga dibilang agak mahal sih sama temen-temen. 600 yen per 30 menit. Kalau lebih dari 1 menit saja, maka akan membayar seharga 10 menit. Sebelum memegang kucing harus cuci tangan pakai semprotan alkohol dan mengganti alas kaki menggunakan slipper.

Cat Cafe 1

Kucing eksotis di Cat Cafe

Temen-temen mau tidak mau harus mematuhi peraturan itu jadinya, karena mereka sudah gemes melihat kucing-kucing eksotis berbulu tebal itu. Mereka tampak ceria seketika saat bermain-main dengan para kucing. Bukan cuma mereka yang berada di sana, udah ada juga cewek-cewek Jepang yang bermain sama kucing di sana. Agak canggung juga karena saya satu-satunya laki-laki yang masuk ke kafe kucing itu. Sudahlah, tidak perlu malu-malu juga lah.

Cat Cafe 2

Para pengunjung bermain dengan para kucing

Temen-temen memesan minum dan juga snack yang akan diberikan pada kucing. Snack-nya juga bayar ya ternyata. Snack ini ternyata mengundang para kucing untuk mendekat, jadinya semua kucing malah berkumpul ke arah kami dan pengunjung yang lain cuma bisa gigit jari. Meskipun begitu, temen-temen jadi tidak bisa tenang bermain bersama kucing karena sesekali harus melihat ke arah jam dinding. Maklum, mereka ngirit juga buat tempat wisata yang lain.

Sebenarnya ada banyak cat cafe di Tokyo, tapi mungkin temen-temen cuma mencari yang terdekat tanpa melihat peraturan atau layanan yang disediakan. Tiap kafe kucing pastinya punya layanan yang berbeda-beda. Jadi jika ingin berkunjung ke kafe kucing, cari yang sesuai dengan hati. Bisa dibaca informasinya di websitenya atau melihat review para pengunjung.

Setelah selesai bermain dengan kucing, mungkin sih temen-temen belum puas kali ya, kami pun bergegas pulang. Ketika temen saya mau mengambil payung, ternyata payungnya tidak ada. Mereka bertanya ke pemilik kafe, si pemilik kafe tidak bisa menjelaskannya menggunakan bahasa Inggris. Saya bilang, "Pakai bahasa jepang ke saya tidak masalah". Lalu si pemilik toko menjelaskan "Ada pengunjung lain yang telah membawa pulang payungnya". Wah kok bisa ada kejadian semacam ini. Entah salah satu dari para cewek-cewek Jepang itu atau wanita separuh baya itu. Entahlah, kami tidak bisa memastikan karena kami adalah pengunjung terakhir. Entah payungnya sengaja diambil atau tidak sengaja terambil. Teman saya jadi sedih dan gelisah.

Melihat itu, si pemilik toko mungkin merasa bertanggungjawab. Akhirnya dia membawa tiga pucuk payung dan teman saya disuruh memilih payung yang dia suka dari ketiga payung itu. Dia senang dapet payung gratis. Dan ternyata, si pemilik kafe juga menyuruh kami berdua memilih payung yang lainnya. Waduh, padahal sebelumnya saya sudah berniat ingin membeli payung lho. Khawatir akan hujan selama berjalan-jalan di Tokyo. Akhirnya dapet payung gratis deh. Si pemilik toko yang awalnya dinilai buruk oleh temen-temen akhirnya dinilai baik. Mereka merasa senang bertemu orang-orang baik di Tokyo selama liburan mereka. Kami akhirnya pamit dan mengucapkan banyak terimakasih kepada si pemilik toko.

Sebenarnya sehabis dari cat cafe, kami kembali ke Sensoji Temple. Di situlah temen-temen mencoba ramalan Omikuji. Saya bilang sih tidak ikut ramalan, "Saya ikut yang The Best Fortune aja, wkwkwk". Hingga malam menjelang pukul 10 kami berpisah, mereka ke penginapan mereka di daerah Iriya dan saya yang bingung mau menginap di mana. Saya pikir jadi gelandangan aja kali lah. Tapi ternyata ada info dari temen sekolah untuk mencari net cafe. Akan ada cerita tentang menginap murah di Jepang di net cafe.