</> Introvesia

Persiapan Wawancara Kedua di Shibuya

Hari ini saya mendapat panggilan wawancara di daerah Shibuya. Minggu lalu saya mengikuti wawancara pertama dan kemudian saya mendapat e-mail pemberitahuan bahwa saya lolos dan diundang untuk wawancara kedua. Kali inipun saya akan melakukan persiapan yang maksimal dari segi penampilan, pengetahuan dan bahasa.

Pada wawancara pertama, saya ditemani oleh seorang cewek Jepang muda. Dia begitu cantik dan manis. Selama perjalanan menuju lokasi wawancara, kami mengobrol banyak dan dia ternyata tidak hanya cantik, tetapi juga pintar. Dia bisa berbahasa Inggris dengan fasih. Usut punya usut ternyata dia lulusan sastra bahasa Inggris. Wajar saja kalau dia fasih berbahasa Inggris jika dibandingkan saya.

Wawancara yang diadakan 2x sudah pernah saya jalani dan saya rasa mungkin prosedurnya sama. Wawancara pertama biasanya dilaksanakan oleh bagian pelaksana dan isi wawancara biasanya masalah teknis dan pelaksanaan. Saya waktu itu ditanya lebih mendalam mengenai pengetahuan pemrograman dan pengalaman kerja sebagai programmer. Wawancara kedua biasanya dilaksanakan oleh bagian manajemen dan isi wawancara biasanya masalah yang tidak ada hubungannya dengan pemrograman, melainkan masalah administrasi. Wawancara kedua biasanya lebih mudah jika dibandingkan wawancara pertama. Lolos dari wawancara pertama adalah anugrah. Kemungkinan banyak kandidat yang telah jatuh di wawancara pertama dan saingan anda menjadi lebih sedikit. Oleh karena itu, jangan juga terlena dan menganggap enteng. Tetap maksimalkan persiapan. Prosedur wawancara sebuah perusahaan kemungkinan berbeda dengan prosedur perusahaan yang lainnya.

Saat wawancara, jangan terlalu gugup. Rasa gugup berlebihan dapat membuat konsentrasi anda hilang dan malah memberikan kesan yang buruk. Tarik nafas dan buang perlahan untuk menghilangkan rasa gugup anda. Anda juga dapat mengendalikan kegugupan anda dengan mengingat kerasnya perjuangan anda di masa lalu dan memikirkan pencapaian anda yang bakal gemilang. Jadi, intinya harus tetap berpikir positif. Jangan biarkan apapun membuat anda merasa minder. Anggaplah pewawancara adalah kawan dan sekaligus lawan anda. Sebagai kawan, bersikap manis dan sopan santun kepada pewawancara. Khususnya di Jepang, sopan santun dan tata krama adalah hal yang sangat penting. Bisa menjadi titik penilaian. Walaupun anda hebat, tapi tidak tahu sopan santun dan tata krama dalam budaya Jepang, anda akan dianggap gagal. Sebagai lawan, jawablah semua pertanyaan pewawancara dengan positif, jangan biarkan pertanyaan si pewawancara menjatuhkan anda. Anda juga tidak boleh berbohong, hanya untuk memberikan kesan positif, karena hal itu akan menyulitkan kedepannya. Jawablah dengan berbobot dan tidak ada yang dilebih-lebihkan.