</> Introvesia

Serunya Pesta Machikon di Tokyo

Apa itu Machikon?

Secara bahasa, machikon berasal dari kata machi (街) yang artinya kota dan kata kon (コン) yang artinya pasangan. Kata kon ini berasal dari bahasa inggris, yaitu "companion" yang berarti pasangan atau teman. Kata "companion" diserap ke dalam bahasa Jepang menjadi kata "コンパニオン", kemudian disingkat menjadi kata "コンパ", dan akhirnya diperpendek lagi menjadi kata "コン".

Machikon adalah sejenis pesta di mana orang-orang yang ingin mencari kenalan baru. Di pesta ini cowok jomblo maupun cewek jomblo yang belum pernah bertemu sebelumnya berkumpul. Di pesta ini kalian bisa berkenalan, mengobrol lebih dalam dengan kenalan, bertukar kontak, sambil makan dan minum bersama. Orang-orang di Tokyo sering mengadakan pesta semacam ini. Saya menanyakan kepada mereka "Mengapa orang Tokyo menyukai acara semacam ini?". "Orang-orang di Tokyo setiap hari sibuk bekerja dan tidak ada waktu untuk bersosialisasi. Jadi di akhir pekan di pesta semacam ini, kami bisa mendapat teman dan bersosialisasi", begitu kata mereka.

Syarat Ikut Pesta Machikon

Ikut pesta ini tidak gratis. Biaya partisipasi tergantung dari pihak yang mengadakan. Biasanya sih 3,000 yen. Ada batas waktu yang ditentukan. Sampai akhir batas waktu, anda bebas berkenalan, mengobrol, makan dan minum. Jadi, jangan lewatkan kesempatan anda untuk mendapat kenalan baru.

Peserta yang ikut pesta ini harus berusia 18 tahun ke atas. Tapi saat mendaftar, tidak ada diminta kartu identitas. Mungkin tergantung sama pihak penyelenggaranya juga sih.

Kesan Saya Tentang Pesta Machikon

Karena alasan alergi, saya tidak makan dan minum sembarangan. Tapi penyelenggara dan teman-teman masih tetap welcome. Pihak penyelenggara menyajikan makanan yang tidak bikin saya alergi dan juga memberikan pilihan minuman yang tidak beralkohol. Orang Jepang tanpa minuman beralkohol sepertinya kurang seru. Baik itu cewek maupun cowok, semuanya pasti minum minuman beralkohol. Saya saat pesta, paling minumnya jus buah atau ginger ale.

Saya orangnya pemalu, jadi saya tidak pernah duluan mengajak kenalan. Ada saja yang mengajak saya kenalan karena merasa penasaran sama orang asing, tapi mereka cowok-cowok. Saya rasa kalau ingin mendapat kenalan cewek, harus buang rasa malu.

Saya beritahu kepada mereka bahwa di Indonesia tidak ada semacam acara seperti ini. Orang Indonesia menurut saya masih bisa leluasa jika dibandingkan orang Jepang. Orang Jepang biasanya terlalu kaku dan tertutup, ternyata di pesta seperti ini mereka sangat terbuka.

Saya ikut 2x pesta machikon. Pesta machikon yang pertama itu diajak sama rekan kerja orang Jepang. Pesta pertama ini diadakan di sebuah cafe di daerah Kanda dan pesertanya rata-rata masih berumur muda. Mulai dari umur 24 tahun. Cewek-ceweknya juga masih muda dan terlihat sangat cantik. Tapi di pesta ini saya tidak mendapat kenalan teman cewek, malah dapat kenalan bro dari Sapporo.  Dia bilang sih sangat tertarik dengan Indonesia, apalagi pas saya ceritakan bahwa di Indonesia orang-orang tidak boleh berhubungan seks sebelum menikah, kalau dilakukan, maka akan dicemooh. Sedangkan di Jepang, cenderung anak muda akan berpacaran terlebih dahulu. Selama berpacaran, mereka melakukan tinggal serumah atau berhubungan seks, tidak ada yang menganggap itu tercela. Sungguh budaya yang benar-benar berbeda 180 derajat.

Di pesta machikon kedua, saya diajak teman yang saya kenal dari pesta machikon pertama. Pesta ini diadakan di sebuah izakaya di Ikebukuro. Pesta kali ini lebih banyak diikuti oleh orang-orang berumur 30 tahun ke atas. Umur sekian ternyata masih banyak yang jomblo. Di pesta kedua ini, ada pengalaman aneh. Pas lagi ngobrol-ngobrol sama cowok-cowok, saya bilang sih saya ini orangnya pemalu tapi ingin menjadi orang bisa berkomunikasi lebih supel. Mereka bertanya, "Dari sejumlah cewek-cewek yang hadir di sini, yang mana tipe kamu?". Dalam hati, "Kok disuruh gini sih, pasti selanjutnya lebih parah nih". Saya tunjuk cewek yang sedang duduk mengobrol dari kejauhan sana. Saya cuma iseng, karena saya sudah berkesimpulan, kalau rata-rata cewek-cewek di sini cantik sih, tapi kelakuannya liar. Lah, mereka malah menyuruh saya menyamperin cewek itu dan mengajaknya kenalan.

Melihat saya malu-malu, walah mereka malah menyamperin cewek itu dan menyuruhnya kenalan sama saya. Saya ladenin kenalan saja dan sampai ngobrol panjang lebar. Tapi percakapan berakhir ketika cewek itu ada yang menarik pinggulnya dari belakang. Saya pikir, seperti inikah cewek Tokyo atau memang cewek itu yang memang sifatnya liar. Saya dan para cowok-cowok hanya bisa saling menatap dan tertawa. Cewek yang kelihatannya manis dan cantik ternyata belum tentu sesuai harapan. Bisa juga sih karena tempat mencari temannya yang tidak sesuai.

Saya rasa sih, bagi yang susah dapat teman selama di Tokyo, bisa ikut pesta semacam ini. Tapi perlu aktif dan tetap menjaga tata krama bagaimana berkenalan dengan orang. Bisa saja ada orang yang sensitif ditanyakan hal-hal pribadi mengenai dirinya saat baru pertama kali kenal.